SEJARAH, PENGERTIAN DAN CONTOH ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI)

SEJARAH ARTIFICIAL INTELLIGENCE 
Kecerdasan Buatan (artificial intelligence) termasuk bidang ilmu yang relatif muda. Pada tahun 1950-an para ilmuwan dan peneliti mulai memikirkan bagaimana caranya agar mesin dapat melakukan pekerjaannya seperti yang bisa dikerjakan oleh manusia. Alan Turing, seorang matematikawan Inggris pertama kali mengusulkan adanya tes untuk melihat bisa tidaknya sebuah mesin dikatakan cerdas. Hasil tes tersebut kemudian dikenal dengan Turing Test, dimana si mesin tersebut menyamar seolah-olah sebagai seseorang di dalam suatu permainan yang mampu memberikan respon terhadap serangkaian pertanyaan yang diajukan. Turing beranggapan bahwa, jika mesin dapat membuat seseorang percaya bahwa dirinya mampu berkomunikasi dengan orang lain, maka dapat dikatakan bahwa mesin tersebut cerdas (seperti layaknya manusia).
Kecerdasan buatan sendiri dimunculkan oleh seorang profesor dari Massachusetts Institute of Technology yang bernama John McCarthy pada tahun 1956 pada Dartmouth Conference yang dihadiri oleh para peneliti AI. Pada konferensi tersebut juga didefinisikan tujuan utama dari kecerdasan buatan, yaitu mengetahui dan memodelkan proses-proses berpikir manusia dan mendesain mesin agar dapat menirukan kelakuan manusia tersebut.
Pada awalnya, kecerdasan buatan hanya ada di universitas-universitas dan laboratorium penelitian, serta hanya sedikit produk yang dihasilkan dan dikembangkan. Menjelang akhir 1970-an dan 1980-an, mulai dikembangkan secara penuh dan hasilnya berangsur-angsur dipublikasikan di khalayak umum. Permasalahan di dalam kecerdasan buatan akan selalu bertambah dan berkembang seiring dengan laju perkembangan zaman menuju arah globalisasi dalam setiap aspek kehidupan manusia, yang membawa persoalan-persoalan yang semakin beragam pula.
Program kecerdasan buatan lebih sederhana dalam pengoperasiannya, sehingga banyak membantu pemakai. Program konvensional dijalankan secara prosedural dan kaku, rangkaian tahap solusinya sudah didefinisikan secara tepat oleh pemrogramnya. Sebaliknya, pada program kecerdasan buatan untuk mendapatkan solusi yang memuaskan dilakukan pendekatan trial and error, mirip seperti apa yang dilakukan oleh manusia.

PENGERTIAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE
Artificial Intelligence atau AI dalam bahasa Indonesia artinya Kecerdasan Buatan yaitu kecerdasan yang ditunjukkan oleh suatu entitas ilmiah. Kecerdasan dibuat dan dimasukkan ke dalam suatu mesin/ komputer supaya bisa melakukan pekerjaan seperti yang bisa dikerjakan oleh manusia. Contohnya adalah kemampuan untuk menjawab diagnosa dan pertanyaan pelanggan, perencanaan dan penjadwalan, pengendalian, serta pengenalan tulisan tangan, suara dan wajah. Hal-hal seperti itu telah menjadi disiplin ilmu tersendiri, yang memusatkan perhatian pada penyediaan solusi masalah di kehidupan yang nyata. Terdapat macam-macam bidang yang menggunakan kecerdasan buatan diantaranya yaitu: game komputer, sistem pakar, jaringan syaraf tiruan, logika fuzzy dan robotika.
Kelebihan Artificial Intelligence:
• Artificial Intelligence bersifat konsisten dan teliti .
• Artificial Intelligence lebih bersifat permanent.
• Artificial Intelligence dapat lebih murah daripada kecerdasan alami.
• Artificial Intelligence menawarkan kemudahan untuk digandakan atau disebarkan. 
• Artificial Intelligence dapat didokumentasi.

CONTOH PENERAPAN 
ARTIFICIAL INTELLIGENCE

  • 1. Natural Language Processing (NLP)
NLP mempelajari bagaimana bahasa alami itu diolah sedemikian hingga user dapat berkomunikasi dengan komputer. Konsentrasi ilmu ini adalah interaksi antara komputer dengan bahasa natural yang digunakan manusia, yakni bagaimana komputer melakukan ekstraksi informasi dari input yang berupa natural language dan atau menghasilkan output yang juga berupa natural language, misalnya pada system Automated online assistant seperti gambar 1.1 dan deteksi email spam yang cerdas.
Gambar 1.1 Penerapan NLP pada automated online asistant berbasis web
  • 2. Computer Vision
Cabang ilmu ini erat kaitannya dengan pembangunan arti/makna dari image ke obyek secara fisik. Yang dibutuhkan didalamnya adalah metode-metode untuk memperoleh, melakukan proses, menganalisa dan memahami image. Apabila cabang ilmu ini dikombinasikan dengan Artificial Intelligence secara umum akan mampu menghasilkan sebuah visual intelligence system. Akuisisi dan pemrosesan informasi berupa vision dapat ditampilkan pada gambar 2.1.
Gambar 2.1 Model persepsi visual pada computer vision

Gambar 2.2 Contoh penerapan computer vision untuk identifikasi wajah
  • 3. Robotika dan Sistem Navigasi
Bidang ilmu inilah yang mempelajari bagaimana merancang robot yang berguna bagi industry dan mampu membantu manusia, bahkan yang nantinya bisa menggantikan fungsi manusia. Robot mampu melakukan beberapa task dengan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Untuk melakukan hal tersebut, robot diperlengkapi dengan actuator seperti lengan, roda, kaki, dll. Kemudian, robot juga diperlengkapi dengan sensor, yang memampukan mereka untuk menerima dan bereaksi terhadap environment mereka Al-Jajari (1136-1206) seorang ilmuwan Islam pada dinasti Artuqid yang dianggap pertama kali menciptakan robot humanoid dimana berfungsi sebagai 4 musisi, hebat kan? Bahkan pada tahun 1796 sudah dihasilkan boneka mekanik bernama Karakuri yang mampu menuangkan air teh atau menulis karakter Kanji yang dibuat oleh Hisashige Tanaka.

Gambar 3.1 Al-Jazari’s programmable automata (Tahun 1206 SM)

Gambar 3.2 Karakuri, rancangan robot dari Jepang adad 16 yang mampu menuang air teh

Ada beberapa istilah penting di dalam robot vision yang saling berhubungan, diantaranya computer vision, machine vision dan robot vision. Computer vision merupakan teknologi paling penting di masa yang akan datang dalam pengembangan robot yang interaktif. Computer Vision merupakan bidang pengetahuan yang berfokus pada bidang sistem kecerdasan buatan dan berhubungan dengan akuisisi dan pemrosesan image. Machine vision merupakan proses menerpakan teknologi untuk inspeksi automatis berbasis image, kontrol proses dan pemanduan robot pada berbagai aplikasi industri dan rumah tangga. Robot vision merupakan pengetahuan mengenai penerapan computer vision pada robot. Robot membutuhkan informasi vision untuk memutuskan aksi apa yang akan dilakukan. Penerapan saat ini vision pada robot antara lain sebagai alat bantu navigasi robot, mencari obyek yang diinginkan, inspeksi lingkungan dan lainnya. Vision pada robot menjadi sangat penting karena informasi yang diterima lebih detail dibanding hanya sensor jarak atau sensor lainnya. Misalnya dengan vision, robot dapat mengenal apakah obyek yang terdeteksi merupakan wajah orang atau bukan. Lebih jauh lagi, sistem vision yang canggih pada robot membuat robot dapat membedakan wajah A dengan wajah B secara akurat (Face recognition system menggunakan metode PCA, LDA dan lainnya). Proses pengolahan dari input image dari kamera hingga memiliki arti bagi robot dikenal sebagai visual perception, dimulai dari akuisisi image, image preprocessing untuk memperoleh image yang diinginkan dan bebas noise misalnya, ekstrasi fitur hingga interpretasi seperti ditunjukkan pada gambar 3.3. Misalnya saja untuk identifikasi pelanggan dan penghindaran multiple moving obstacles berbasis vision, atau untuk menggerakan servo sebagai aktuator untuk mengarahkan kamera agar tetap mengarah ke wajah seseorang (face tracking).
Gambar 3.3 Contoh Model visual perception pada robot

Contoh nyata model service robot berbasis vision (vision-based service robot) yang dikembangkan penulis bernama Srikandi III yang menggunakan 2 buah kamera (stereo vision) seperti gambar di bawah, dimana robot dapat mengirimkan order pesanan minuman ke pelanggan:

Gambar 3.4 Contoh robotika berbasis kamera

Pada pengembangan selanjutnya, menanamkan kecerdasan buatan yang komplek pada robot sehingga mampu mengenal dan memahami suara manusia, perhatian terhadap berbagai gerak lawan bicara dan mampu memberikan response alami yang diberikan robot ke manusia merupakan tantangan ke depan untuk membangun robot masa depan.
  • 4. Game Playing
Game biasanya memiliki karakter yang dikontrol oleh user, dan karakter lawan yang dikontrol oleh game itu sendiri. Dimana kita harus merancang aturan-aturan yang nantinya akan dikerjakan oleh karakter lawan. Game akan menjadi menarik apabila karakter lawan (non-player) bereaksi dengan baik terhadap apa yang dilakukan oleh player. Hal ini akan memancing penasaran user dan membuat game menarik untuk dimainkan. Tujuan intinya adalah membuat non-player memiliki strategi yang cerdas untuk mengalahkan player. Pada bidang ini, AI dibutuhkan, yaitu untuk merancang dan menghasilkan game yang fun serta antarmuka antara man-machine yang cerdas dan menarik untuk dimainkan.
Gambar 4.1 Games tingkat lanjut yang menerapkan AI
  • 5. Sistem Pakar
Bidang ilmu ini mempelajari bagaimana membangun sistem atau komputer yang memiliki keahlian untuk memecahkan masalah dan menggunakan penalaran dengan meniru atau mengadopsi keahlian yang dimiliki oleh pakar. Dengan sistem ini, permasalahan yang seharusnya hanya bisa diselesaikan oleh para pakar/ahli, dapat diselesaikan oleh orang biasa/awam. Sedangkan, untuk para ahli, sistem pakar juga akan membantu aktivitas mereka sebagai asisten yang seolah-olah sudah mempunyai banyak pengalaman.
Gambar 5.1. Model Sistem Pakar

Menurut Turban, Sistem Pakar dapat ditampilkan dengan dua lingkungan, yaitu lingkungan pengembangan dan lingkungan konsultasi (runtime). Lingkungan pengembangan digunakan oleh ES builder untuk membangun komponen dan memasukkan pengetahuan ke dalam basis pengetahuan. Lingkungan konsultasi digunakan oleh user nonpakar untuk memperoleh pengetahuan dan nasihat pakar. Lingkungan ini dapat dipisahkan setelah sistem lengkap.

Read more...

PENGERTIAN SERVICE LEVEL AGREEMENT DAN OPERATIONAL LEVEL AGREEMENT

Service Level Agreement (SLA)

Tujuan utama proses manajemen tingkat pelayanan adalah untuk membantu menjamin kepuasan pengguna dengan memastikan bahwa pelayanan IT telah dilakukan sesuai dengan syarat dan kondisi yang tertera pada deskripsi atau katalog pelayanan. ITIL mendefinisikan SLA sebagai sebuah perjanjian tertulis antara penyedia layanan TI dan stackholder, mendefinisikan target layanan kunci dan tanggung jawab kedua belah pihak dan harus pada kesepakatan agar saling mengungkan.

1. Service Level Management Manajemen Tingkat Pelayanan

Pengamatan proaktif pada pemberian layanan IT dilakukan untuk memastikan target yang telah disepakati sebelum langkah untuk tanggung jawab, kualitas dan ketersediaan secara konsisten dapat terpenuhi.
Ketika suatu perusahaan mulai banyak membutuhkan IT sebagai penyedia layanan, semakin penting untuk memperhatikan tingkat kebaikan dan kualitas layanan. Jika layanan IT ingin dikelola secara efektif, harus memperhatikan langkah-langkah yang akan diterapkan untuk memastikan bahwa kinerja yang telah sepakat tidak ada toleransi.

Proses Objektif

Proses manajemen tingkat pelayanan harus fokus pada obyek berikut ini :

1. Memastikan kinerja penyedia layanan berada dalam batas-batas yang ditentukan
Tujuan utama proses manajemen tingkat pelayanan adalah untuk membantu menjamin kepuasan pengguna dengan memastikan bahwa pelayanan IT telah dilakukan sesuai dengan syarat dan kondisi yang tertera pada deskripsi atau katalog pelayanan. Harus diperhatikan bahwa telah ada jaminan pemberian pelayanan sesuai dengan tingkat pelayanan yang telah disepakati dapat memuaskan pelanggan. Banyak kasus yang terjadi bahwa pelanggan tidak puas dengan pelayanan yang diberikan sehingga harus kembali didiskusikan oleh tim manajemen pemberian pelayanan dengan perusahaan. Dengan begitu tingkat pelayanan dapat diperbaharui dan peningkatan pelayanan dapat diimplimentasikan.

2. Pencegahan pelanggaran SLA
Dengan mengidentifikasi kasus dimana pelanggaran SLA dilakukan sebelumnya, sistem manajemen layanan IT mengizinkan manajemen IT untuk mengambil tindakan pencegahan dan preventif yang diperlukan untuk menghindari pelanggaran SLA. Perlu diperhatikan juga bahwa kegiatan yang dilakukan untuk mencegah pelanggaran SLA tidak memiliki efek yang merugikan pada layanan dan tingkat layanan lain.

3. Identifikasi dan pemantuan Indikator Utama Kinerja (Key Performance Indicators or KPI)
Key Performance Indicators membantu organisasi untuk menjelaskan dan mengukur kemajuan terhadap tujuan organisasi. Ketika suatu organisasi telah menganalisis misinya, mengidentifikasi semua pemegang saham, dan mendefinisikan tujuannya, organisasi membutuhkan suatu cara untuk mengukur kemajuan terhadap pencapaian tujuan tersebut. KPI inilah yang digunakan sebagai tolak ukur. Ketika menentukan KPI, kita harus membatasi faktor-faktor penting untuk fungsi IT dalam mencapai tujuannya.

4. Penyediaan informasi kepada fungsi desain layanan untuk memungkinkan peningkatan kualitas pelayanan.
Matrik kinerja pemberi layanan dimana sebagai bagian dari proses Service Level Management mungkin sangat berguna bagi area lain dalam suatu perusahaan. Penggunaan data SLA dalam hubungannya dengan perangkat SPC seperti diagram kontrol memungkinkan tim peningkatan pelayanan untuk mengidentifikasi trending dan menentukan apakah ada proses yang tidak terkontrol

2. Masalah Umum

Masalah umum yang berpengaruh pada manajemen tingkat pelayanan meliputi :
a. Pengertian SLA yang mendorong perilaku yang tidak efektif dan tidak produktif.
b. Pengertian SLA yang rumit sehingga tidak dipahami oleh kelompok pelaksana.
c. Terlalu banyak fokus pada etika masing-masing individu.
d. Kurangnya sudut pandang pekerjaan secara keseluruhan.
e. Peringatan yang berlebihan sehingga menyebabkan orang mengabaikannya.
f.  Pekerjaan berlebihan yang tidak perlu sehingga bertentangan dengan SLA.
g. Mengalihkan sumber daya ke SLA yang sia-sia.
h. Manajemen mikro dengan angka.
i.  Elemen pemberi pelayanan berada diluar kendali kelompok pelaksana
j.  Sistem dan proses yang memungkinkan pengguna untuk memalsukan pengukuran dan metric.
k. SLA yang gagal memperhitungkan prioritas perubahan masalah.
l.  Meningkatnya masalah terlalu cepat atau terlalu lambat.
m. Beban administrasi yang berlebihan terkait dengan pengambilan, analisis, dan pelaporan data SLA.
n. Penggunaan metrik SLA untuk membuat peringkat individu de-memotivasi, mengikis semangat tim dan memimpin orang-orang untuk sengaja menyembunyikan masalah dan mencari cara-cara untuk mencapai target.

3. Diagram Aliran Proses

1. Mengidentifikasi portofolio layanan.
2. Mendefinisikan kontrak yang mendasar.
3. Mengidentifikasi parameter penting layanan.
4. Mendefinisikan Persetujuan Tingkat Pelayanan (SLA).
5. Mendefinisikan proses peningkatan.
6. Memantau SLA yang terkait dengan transaksi.
7. Mengidentifikasi kasus spesifik yang dibutuhkan untuk peningkatan.
8. Melaksanakan proses peningkatan yang sesuai.
9. Mengambil tindakan pencegahan atau perbaikan.
10. Mencegah pelanggaran SLA yang mungkin terjadi.
11. Melaporkan penyesuaian SLA secara keseluruhan.
12. Mengulas kinerja terhadap SLA.
13. Menentukan apakah tujuan SLA realistis dan dapat dicapai.
14. Negosiasi ulang definisi layanan dan atau tingkat layanan dengan perusahaan.

4. Pemain Kunci

  • Layanan pengguna/pelanggan : Siapapun yang sadar atau tidak sadar mengakses mengkonsumsi atau menggunakan layanan
  • Agen layanan/pendukung : Personil bertugas memberikan layanan dan mendukung pengguna untuk mencoba menggunakannya
  • Kelompok pengiriman : Tim fungsional yang bertanggung jawab untuk pemberian layanan dalam parameter yang disepakati
  • Manajer pemberi layanan : Posisi dalam manajemen yang bertanggung jawab atas pemberian satu layanan atau lebih dari awal hingga akhir. Manajer pelayanan biasanya berfokus pada memberikan layanan sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati dengan menjaga pengeluaran tambahan dan biaya pengiriman serendah mungkin.

5. Elements of a Service Level Agreement

Daftar berikut menguraikan unsur-unsur inti dari waktu tradisional didasarkan pada SLA :

a. Tujuan dari SLA : Secara umum, SLA cenderung disusun dengan tujuan sebagai berikut :
1. Agar pihak terkait dapat mematuhi persyaratan kontrak
2. Peningkatan kepercayaan dan kepuasan pengguna
3. Mengawasi kinerja kelompok tertentu, individu atau sub-kontraktor
4. Identifikasi proses peluang perbaikan
5. Untuk menetapkan harapan pengguna secara tepat mengenai tingkat responsibilitas
6. Perbaikan sistem / keandalan dan stabilitas layanan
7. Untuk memungkinkan pihak non-performing dikenakan sanksi
8. Untuk memenuhi internal atau eksternal auditor / konsultan
9. Untuk menghasilkan data operasional yang akan dianalisis sebagai bagian dari inisiatif tindakan preventif
10. Untuk menunjukkan kinerja dan meningkatkan persepsi nilai fungsi TI dalam bisnis yaitu untuk meningkatkan visibilitas IT

b. Fokus SLA : Fokus dari SLA sebenarnya untuk pemantauan. SLA juga harus menentukan jenis dan fitur yang membedakan dari hal-hal yang mudah untuk dilacak oleh SLA. Perawatan harus dilaksanakan untuk memastikan bahwa SLA hanya untuk mengukur apa yang perlu dan yang tidak perlu dilakukan.

c. Periode pelaporan SLA : Biasanya metrik SLA didasarkan pada langkah-langkah kalender tradisional (yaitu harian, mingguan, bulanan, kuartalan dll) tetapi beberapa organisasi mulai merasionalisasi lebih dekat pada periode penting untuk bisnis misalnya ujung bulan, menutup kuartal, periode penjualan puncak dsb.

d. Validasi : Jika SLA berguna untuk memberikan gambaran yang adil dan akurat dari kinerja, maka rincian tentang bagaimana cara melintasi batas-batas waktu pelaporan SLA harus ditangani dan perlu didefinisikan.

e. Frekuensi Pemantauan : Pemicu penentuan kapan SLA harus mulai diukur/dilacak tertentu. Pemicu ini dimulai atau dihentikan saat pembuatan modifikasi (misalnya update status, tugas dll) dan dilakukan secara berkala dengan jadwal yang ditetapkan (misalnya setiap jam)

Proses Eskalasi : Frekuensi pemantauan adalah tingkat di mana SLA dievaluasi. Tingkat frekuensi harus cukup sering dilakukan untuk memastikan bahwa semua ambang eskalasi diidentifikasi pada saat jatuh tempo dengan keterlambatan minimal. Tetapi juga penting untuk tidak terlalu sering memeriksa karena hal ini akan menimbulkan beban pengolahan. Ada dua metode utama untuk mendefinisikan ketika aturan SLA dievaluasi yaitu Event based monitoring dan Time based monitoring

Ambang Eskalasi : Proses eskalasi mendefinisikan tindakan yang akan diambil selama siklus hidup SLA. Tindakan ini dapat difokuskan pada peningkatan kesadaran masalah atau target pada penugasan sumber daya tambahan.

Tindakan Eskalasi : Tindakan ini dimaksudkan untuk membuat orang sadar akan kasus yang mendasari dan untuk mempromosikan kecepatan resolusi dari masalah .

Eskalasi Threshold : Eskalasi threshold mendefinisikan bila tindakan, atau urutan tindakan, yang akan dimulai dalam kaitannya dengan kasus tertentu yang sedang dilacak terhadap SLA.

Mulai fungsi “Stop the Clock” : Banyak manajer pelayanan yang benar-benar yakin bahwa kadang-kadang akan ada situasi di mana tim pelayanan tidak dapat memenuhi fungsi mereka karena keadaan di luar kendali. Dalam kasus seperti itu mungkin saat tepat untuk menangguhkan SLA terkait untuk mencegah organisasi yang mengalami dampak negatif dari efek bahwa penundaan akan memiliki pada metrik kinerja pengiriman.

Melanjutkan SLA setelah “Restart” : Setelah berhenti, akan ada ketepatan bahwa salah satu berpotensi ingin restart lagi di beberapa titik.

Berdiri bersih ketika kegagalan datang : Keadaan dan prioritas berubah pada setiap jam dalam kebanyakan penyedia IT dan sangat penting bahwa sistem yang mendukung proses pelayanan mampu bereaksi terhadap kebutuhan bisnis. Oleh karena itu diinginkan sistem pendukung yang secara otomatis menyesuaikan tujuan SLA dalam menanggapi perubahan dalam prioritas, dampak, lingkup dll sementara tiket masih dalam proses.

6. Dynamic SLAs

Memberikan tujuan SLA dapat dicapai tanpa harus pernah dilanggar. Paling tidak, pelanggaran seperti itu seharusnya tidak datang tiba-tiba bagi tim pelayanan sebagaimana mestinya dan selalu sadar kinerja mereka terhadap SLA dan posisi mereka pada akhir periode SLA saat ini.
Setiap agen outsourcing IT yang tertarik untuk menghindari terkena sanksi terkait SLA mendedikasikan sumber daya yang cukup untuk proyeksi ke depan untuk menentukan apakah mungkin bahwa mereka akan melanggar tujuan SLA. Kontrak outsourcing besar biasanya memiliki sebanyak dua atau tiga orang yang berdedikasi untuk menciptakan prediksi pelayanan setiap hari.
Prediksi ini biasanya akan didasarkan pada serangkaian skenario dan asumsi dengan memberikan kasus terburuk dan kasus terbaik dari langkah-langkah kemungkinan SLA. 

Untuk menentukan apakah suatu pelanggaran SLA mungkin dihindari, dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut :
1. Hitung kinerja saat melawan SLA
2. Memperkirakan kemungkinan kinerja untuk kasus-kasus yang sedang berlangsung
3. Pilih penggunaan layanan yang sesuai profil / model
4. Gunakan profil penggunaan untuk menentukan tingkat kemungkinan penggunaan layanan dalam periode SLA yaitu memperkirakan jumlah kasus di mana upaya pengiriman tersisa bisa dibagi untuk menambah atau mengurangi kinerja SLA keseluruhan
5. Kinerja ekstrapolasi SLA maju ke akhir periode SLA saat ini
6. Mengevaluasi apakah pelanggaran mungkin
7. Hitung SLA tujuan / target disesuaikan diperlukan untuk memastikan kepatuhan atau untuk meminimalkan tingkat atas pengiriman terhadap SLA
8. Menentukan apakah pelanggaran SLA tidak dapat dihindari berdasarkan target SLA disesuaikan
9. Ulangi proses berkala selama periode SLA

Model prediksi tidak hanya memungkinkan manajer tingkat layanan untuk memperkirakan saat ini ke depan kinerja pengiriman untuk menentukan apakah atau tidak tujuan SLA akan puas, tetapi juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan antara profil kebutuhan yang sebenarnya dialami dan distribusi diantisipasi permintaan layanan. Perbedaan tersebut dapat menjadi indikator awal perubahan perilaku penggunaan jasa dan / atau juga dapat membantu untuk mengidentifikasi faktor-faktor generasi permintaan eksternal yang dapat secara radikal mengubah cara di mana pengguna menawarkan layanan tertentu.
Tingkat akurasi model prediksi bisa sangat akurat, tetapi mereka mungkin tidak diperlukan untuk organisasi dengan karakteristik permintaan yang sangat stabil. Organisasi tersebut memutuskan untuk tidak dinamis memodelkan permintaan tetapi menggunakan nilai-nilai sejarah sebagai gantinya. Mengutak-atik konstan dapat menutupi masalah sistemik yang mendasari dan mencegah manajemen dari mengidentifikasi isu-isu yang terkait dengan proses yang memerlukan tindakan perbaikan atau pencegahan sedini mungkin mereka melakukannya sebaliknya.

8. The Three Pillars of Service Quality Measurement

Kebanyakan proses manajemen tingkat layanan fokus pada bidang-bidang berikut:
  • Responsiveness : melacak berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan sesuatu. Kebanyakan SLA respon didasarkan pada asumsi bahwa orang tidak suka menunggu ketika meminta bantuan Response time sendiri bukan merupakan ukuran yang cukup untuk menentukan kualitas layanan.
  • Ketersediaan : Ketersediaan metrik memantau proporsi kemungkinan sesuatu sedang online atau tersedia untuk digunakan pada saat itu. Teori adalah bahwa layanan harus tersedia pada permintaan sesering mungkin agar dapat melayani kebutuhan pengguna ketika mereka membutuhkannya untuk dilayani.
  • Quality of Service : Secara historis, kualitas tindakan pelayanan dalam konteks IT telah didasarkan pada waktu yang dibutuhkan untuk sistem IT tertentu atau aplikasi melakukan sesuatu.
Pulling it all Together – Aggregated SLAs
Dalam skema besar hal, manajemen harus berkonsentrasi pada kinerja sistem secara keseluruhan dan harus memiliki kepercayaan yang cukup dalam tim mereka untuk meninggalkan proses, dan orang-orang yang bekerja proses, berurusan dengan kerlip statistik tak terelakkan bahwa akan selalu muncul sepanjang jalan. SLA Gabungan fokus pada kinerja keseluruhan sistem dan memperhitungkan variasi statistik.

a. Agreed Service Levels – Resisting the Temptation to Over Deliver
Jika anda merasa memiliki banyak sumber daya yang dapat memenuhi komitmen perusahaan anda maka silahkan acuhkan bab ini, tetapi apabila anda bekerja di dunia nyata yg memaksa untuk dilakukan keputusan dengan tepat tanpa membuat kesalahan lakukan hal ini. Cek fungisi IT jika ada untuk memonitor level diterimanya model SLA

b. Service Quality Perception and the Sample of One
Masing-masing pengguna cenderung memiliki pandangan yang terbatas dari performa IT­ secara keseluruhan dan mungkin memiliki pandangan dengan cara mereka sendiri. Rencana aksi berikut dapat bertindak sebagai alternatif yang lebih sesuai untuk membuat DBA anda yang paling menjadi perhatian :
1. Mengenali – Bekerja dari sesuai kebutuhan.
2. Kontak – menjangkau dan secara langsung kepada mereka.
3. Berempati – Memahami rasa sakit dan frustrasi.
4. Memberikan – Melakukan apa saja untuk menjadi benar.
5. Mendidik – membantu untuk melihat bagaimana permasalahan sesuai dengan gambarnya.
6. Termasuk – melibatkan pengguna.
7. Mengubah – membuat iklan yang baik untuk IT.

c. Traffic Lights
Layanan IT mungkin mempunyai beberapa SLA lain dan sistem metrik dikaitkan dengan mereka. Penciptaan satu indikator layanan memerlukan berpikir keras berdasarkan pada relatif bobot-SLA, hukuman ambang batas dan yang tersisa di dalam waktu yang relatif pelaporan yang saat ini masa(s). Dalam dunia ideal, indikator composite SLA harus didasarkan pada performa saat ini, sisa waktu tersisa dalam periode SLA dan kemungkinan yang mendasari SLA akan dipenuhi. Biasanya Lebih lampu lalu lintas adalah berdasarkan pada suatu secara statistik cacat kombinasi performa data yang tidak banyak membantu manajemen senior memahami tingkat resiko yang paparan organisasi mereka menghadapi. perhitungan gabungan SLA mungkin juga memiliki tantangan berbeda seperti SLA pengukuran dan pelaporan periode Mei perlu penjajaran, atau di mana ini tidak mungkin, SLA mungkin perlu dihitung pada pekerja dasar dan digabungkan sesuai dengan yang telah ditentukan sebelumnya Menggabungkan SLA algoritma yang mengukur tipe yang berbeda dari parameter layanan juga menarik, seperti membandingkan waktu berdasarkan metrik dengan acara frekuensi dan seperti memerlukan hati pemikiran dan aplikasi mengadakan komplotan perbandingan

d. Developing Meaningful Metrics that Help Improve Service Quality
Ketika menentukan metrik layanan adalah penting untuk memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang ingin anda ukur dan mengapa anda ingin mengukur. Tanyakan hal ini untuk menentukan.
1. Apakah metrik difokuskan pada pengalaman pengguna akhir?
2. Apakah aktivitas mengukur produktif daripada sekedar monitoring kegiatan?
3. Apakah metrik didefinisikan dengan jelas, dapat diukur dan bermanfaat untuk mereka yang melakukan pekerjaan tersebut ?

e. Management by Numbers is a Self Fulfilling Prophecy – People Cheat!
Hampir mustahil untuk melaksanakan proses ITSM apa pun yang aman. Setiap sistem dapat dipengaruhi untuk beberapa sejauh untuk memberikan metrik bahwa keinginan oleh hati licik manager dengan mata mereka tertuju pada sebuah bonus. Saran berikut dapat membantu untuk memerangi perilaku seperti itu, namun tetap pekerjaan manajemen untuk terus menerus meninjau sistem itu.
1. Menghindari menempatkan terlalu banyak penekanan pada satu metric.
2. Hilangkan input manual dimanapun.
3. Gunakan pihak ketiga untuk mengumpulkan data penting.
4. Gunakan model analisa yang masuk akal.

Operational level agreements (OLA)

Banyak organisasi bermanfaat menulis perjanjian antara bagian yang berbeda dari penyedia layanan TI yang Tentukan target kinerja yang setiap bagian bisa dan siap untuk menanggung. Perjanjian tersebut, yang dikenal sebagai Perjanjian tingkat operasional (OLAs), mengaktifkan SLM untuk memiliki keyakinandalam SLA mereka bernegosiasi dengan pelanggan.

Kesepakatan tingkat operasional (OLA) merupakan sebuah kesepakatan antara penyedia layanan IT dan bagian lain dari organisasi yang sama. OLA mendukung itu penyedia layanan pengiriman itu layanan kepada pelanggan.

1. Mengelola tingkat pelayanan(Managing service levels)
Menempatkan SLA di tempat dengan konsisten UCs dan OLAs mencapai apa-apa kecuali kinerja terhadap SLA diukur, dimonitor dan dilaporkan dan sesuai tindakan-tindakan untuk mempertahankan dan terus meningkatkan layanan pengiriman. Tanggung jawab berkelanjutan SLM prihatin dengan mempertahankanhubungan yang konstruktif dan positif dengan pelanggan, mengukur dan pemantauan kinerja terhadap SLA, pelaporan dan meninjau kinerja dengan customer, berurusan dengan mengubah persyaratan dan terus-menerus berusaha untuk memperbaiki tingkat pelayanan yang mana ini biaya-efektif. Ini bukanlah suatu hubungan satu sisi, namun. SLM juga memiliki tanggung jawab untuk membantu para pelanggan dan membuat bisnis penggunaan paling efektif dan memenuhi kewajiban mereka termasuk dalam SLA.

2. Pertemuan SLA(SLA review meetings)
Pertemuan rutin dengan pelanggan adalah bagian pusat dari SLM. Mereka yang tidak hanya kesempatan untuk melaporkan dan meninjau kinerja, meskipun ini adalahsalah satu isu-isu kunci. Ini pada dasarnya adalah tentang membangun dan memelihara hubungan.
Pertemuan adalah sebuah forum untuk bertukar informasi tentang isu-isu yang menjadi perhatian, seperti kebutuhan untuk pelatihan pengguna atau mengkhawatirkantren di kinerja atau beban kerja. Mereka memberikan kesempatan bagi penyedia layanan IT dan nasabah untuk berbagi rencana mereka untuk perubahan di masa depan: Bisnis mungkin berencana ekspansi dalam penggunaan; mungkin ada proposal yang relevan di depan jadwal perubahan;mungkin berencana untuk menggantikan Layanan kunci komponen atau memperkenalkan unsur manajemen layanan baru.

Contoh Kasus

Beberapa provider IT khususnya provider / penyedia layanan internet memberikan SLA antara 96% – 99%, artinya dalam 1 bulan pihak provider menjamin bahwa layanan yang diberikan adalah :

Menghitung SLA (asumsi dengan SLA 98%, artinya layanan standard mereka 98% dalam 1 bulan, dan 2% dianggap wajar jika terjadi mati (down) dalam layanan tersebut).
1 hari = 24 jam
1 bulan = 30 hari

Biaya bulanan Internet = Rp. 1.000.000
==> 1 bulan = 30 hari x 24 jam = 720 Jam (720 jam merupakan layanan 100%).
==> Sedangkan jika 98% maka layanan standard mereka adalah.
==> 98% * 720 jam = 705.6 jam (layanan standard mereka, sisanya 14.4 jam dianggap wajar jika layanan itu mati (down)).

Pengertian Restitusi dan Bagaimana menghitung Restitusi
Restitusi adalah pengembalian dalam bentuk (bisa dalam bentuk pembayaran (uang), ataupun lainnya (tergantung kontrak) dari pihak penyedia layanan kepada klien.

Sebagai contoh (dengan mengambil lanjutan perhitungan diatas), jika klien mempunyai kewajiban membayar Rp. 1.000.000 :

Biaya bulanan internet = Rp. 1.000.000
SLA layanan (contoh bulan Juli) = 76,6% (100% – 23,3%), artinya pihak provider bulan juli hanya bisa memberikan layanan internet sebesar 76,6% artinya ada selisih (98% – 76.6% = 21.3%, yang tidak bisa dipenuh oleh pihak provider)

21,3 % adalah hak kita untuk mendapatkan penggantian, penggantian ini biasanya dlm bentuk pengurangan pembayaran, misalkan kita bayar

1bulan Rp. 1.000.000 = untuk layanan 98% (1% sekitar Rp. 10.204)
Maka u/ layanan hanya 76.6% = 1.000.000 – (21.3% X Rp. 10.204)
= Rp1.000.000 – Rp. 217.345
= Rp. 782.654

Artinya dalam bulan ini kita hanya punya kewajiban membayar sekitar Rp. 782.654

Daftar Pustaka

http://annisanlestari.blogspot.co.id/2016/06/service-level-managementmanajemen_24.html
http://modulmakalah.blogspot.co.id/2016/12/Manajemen.SLA.Service.Level.Agreement.Pengertian.Contoh.dan.Fungsi.html
Read more...

PERBANDINGAN ANTAR ITIL, MOF DAN ASL

ITIL(Technology Infrastructure Library)

Pengertian Technology Infrastructure Library (ITIL)
Technology Infrastructure Library yang merupakan sebuah kerangka kerja atau konsep yang menggambarkan praktek terbaik dalam manajemen layanan teknologi informasi (TI) dan berfokus pada pengembangan dan pengukuran yang terus menerus terhadap kualitas dari layanan IT yang diberikan baik terhadap bisnis atau pelanggan. Fokus dari ITIL sendiri ialah memberikan kontribusi dan keuntungan dalam menjalankan teknik-teknik dan proses-proses pada organisasi. Menurut Cartlidge beberapa keuntungan dari ITIL, antara lain :
1. Meningkatkan kepuasan pengguna dan pelanggan terhadap layanan IT.
2. Memperbaiki ketersediaan layanan.
3. Menghemat keuangan, dari pengurangan kerja, kehilangan waktu.
4. Memperbaiki manajemen sumber daya dan keguanaan.
5. Memperbaiki pembuatan keputusan dan mengoptimalkan resiko.
6. Memperbaiki waktu terhadap pasar untuk produk baru dan layanan

Tujuan Technology Infrastructure Library ITIL
Tujuan Information Technology Infrastructure Library (ITIL) adalah untuk menyediakan petunjuk untuk praktek terbaik dalam manajemen layanan teknologi informasi. Ini mencakup pilihan yang dapat diapdopsi dan diadaptasi oleh organisasi berdasarkan kebutuhan bisnisnya, keadaan, dan kedewasaan dari penyedia layanan.

Konsep ITIL
ITIL (Information Technology Infrastructure Library) merupakan metodologi yang memberikan panduan best practice bagi IT Service Management dalam membantu menghubungkan IT dengan kebutuhan pelayanan bisnis dan juga sebaliknya. ITIL memberikan pengaruh kepada manajemen termasuk di dalamnya manajemen orang dan proses, efektifitas teknologi, serta efisiensi dan ekonomis dalam memberikan pelayanan bisnis dengan service level yang telah disetujui bersama (antara IT dengan bisnis).

Keuntungan yang diperoleh dari ITIL adalah bisnis yang lebih kompetitif diantaranya dengan meningkatnya kepuasan dan pelayanan nasabah,meningkatnya availability dan reliability dari pelayanan IT, meningkatnyaroles dan responsibilities dari organisasi IT, menghubungkan IT dengan bisnis dan bisnis dengan IT.
ITIL memiliki beberapa proses (OGC,2003), diantaranya :
  • 1. The Business Perspective
Berfokus kepada pelurusan, pemahaman dan peningkatan IT yang berhubungan dengan kebutuhan bisnis sekarang dan yang akan datang.
  • 2. ICT Infrastructure Management
Manajemen infrastruktur ICT (Information and Communications Technology) berfokus pada kuantitas, kualitas, dan ketersediaan dari informasi yang berhubungan dengan infrastruktur. Meliputi manajemen pelayanan jaringan, manajemen operasi, manajemen dari lokal prosesor, instalasi komputer, dan manajemen sistem.
  • 3. Planning to Implement Service Management
Merupakan permintaan proses dan fungsi yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan atau meningkatkan ketentuan pelayanan IT. Meliputi IT maturity, keuntungan dari manajemen pelayanan, peningkatan yang terus menerus yang pasti ngerokokdihubungkan untuk mengimplementasikan proses ITIL dan fungsi Service Desk.
  • 4. Application Management
Lifecycle dari aplikasi dan pengaruhnya terhadap implementasi, pengembangan, dukungan dan pengiriman pelayanan ICT. Manajemen aplikasi meliputi perubahan bisnis, definisi permintaan, dan implementasi dari solusi untuk menemukan kebutuhan bisnis.
  • 5. Security Management
Merupakan bagian dari manajemen IT.
  • 6. IT Service Management
Merupakan kumpulan dari tanggung jawab yang saling berbagi, ditambah dengan disiplin dan proses yang saling berhubungan yang memampukan perusahaan untuk menjamin, mengawasi, dan mengatur infrastruktur IT untuk memberikan kualitas dan efektifitas pelayanan agar dapat menghubungkan keperluan bisnis jangka pendek dan jangka panjang.

MOF(Microsoft Operations Framework)

Pengertian Microsoft Operations Framework(MOF)
MOF merupakan sekumpulan prinsip, teknik, dan juga model yang teruji di lapangan (best practices) untuk mengelola layanan TI, yang bertujuan untuk mencapai target service level : availability, reliability, supportability, managability, dan juga menciptakan infrastruktur TI yang adaptif.

MOF juga mencakup SDM, proses(prosedur) dan teknologi. MOF dikembangkan oleh IT Infrastructure Library dari OGC di Inggris. Microsoft Operations Framework terdiri dari best practice, prinsip, dan kegiatan yang memberikan panduan komprehensif untuk mencapai kehandalan untuk solusi dan layanan Teknologi Informasi (TI). MOF juga menyelenggarakan kegiatan dan proses TI dalam fungsi manajemen layanan (SMF), yang berlangsung pada siklus hidup yang terdiri dari tahapan perencanaan, penyampaian, operasional, dan juga pengelolaan. ISO/IEC 20000 dapat menunjukkan bahwa organisasi berorientasi pada kualitas dengan memberikan layanan TI yang efisien dan efektif. ISO/IEC 20000 terdiri dari ISO/IEC 20000-1 dan ISO/IEC 20000-2. ISO/IEC 20000-1 merupakan spesifikasi auditable dengan mendefinisikan persyaratan untuk sertifikasi. Sedangkan ISO/IEC 20000-2 merupakan kode praktek yang berisi rekomendasi dan bimbingan untuk membantu organisasi mencapai sertifikasi.

Ada juga Tujuan MOF Sebagai Panduan ISO/IEC 20000 :
1. Mengetahui hubungan tahapan MOF dengan komponen dalam ISO/IEC 20000.
2. Mengetahui dukungan MOF terhadap persyaratan standar ISO/IEC 20000.
3. Perubahan MOF yang mendukung persyaratan ISO/IEC 20000.

Prinsip Dasar MOF 
1. Kegiatan yang terstruktur.
2. Memudahkan koordinasi dan perencanaan.
3. Penyempurnaan iteratif dengan siklus cepat.
4. Manajemen berbasis review (evaluasi)
5. Review dilakukan pada akhir tahapan-tahapan dalam siklus iterasi.
6. Aspek manajemen resiko terkandung dalam prosedur pengelolaan.

Struktur MOF


ASL(Application Service Library) 

Pengertian Application Service Library (ASL)
ASL adalah sebuah framework untuk proses manajemen aplikasi. ASL adalah domain publik standar untuk manajemen aplikasi. ASL adalah standar yang independen, terpisah dari IT Infrastructure Library (ITIL), tetapi terkait dengannya dalam pengertian kepatuhan terhadap standar-standar untuk mengelola proses dan memberikan keterkaitan yang erat, kepatuahan dari kumpulan publik domain dari suatu pedoman. 

ASL lebih dari sekadar framework. Karena didukung oleh praktek-praktek terbaik yang diambil dari sejumlah organisasi. Konsep ASL akan dikembangkan oleh yayasan dan para pendukungnya secara berkelanjutan. 

Cakupan Application Service Library(ASL) 
ASL ini dimaksudkan untuk mendukung Manajemen Aplikasi dengan menyediakan alat-alat. Dua kategori utama bantu didefinisikan:
Deskripsi dari proses untuk Manajemen Aplikasi. Ditambah penggunaan praktek-praktek terbaik terminologi standar, menghindari perangkap berbicara tentang topik yang berbeda saat menggunakan kata-kata yang sama.

Tujuan dari ASL adalah untuk membantu dalam profesionalisasi Manajemen Aplikasi.
Ada 4 proses dalam cluster Dukungan Aplikasi. Proses dalam cluster Organisasi Layanan mendukung penggunaan sehari-hari dari sistem informasi. Proses dalam cluster ini adalah: 
1. Use Support
2. Configuration Management
3. IT Operation Management
4. Continuity Management 

Kerangka Kerja Application Service Library(ASL) 
Framework ASL terdiri dari enam proses cluster, dibagi menjadi tiga tingkat yaitu proses operational, managing and strategic levels. Memilki sudut pandang jangka pendek dan menengah, sedangkan sudut pandang proses untuk beberapa tahun ke depan. strategis menghadap ke arah horizontal.
Dukungan aplikasi klaster pada tingkat operasional bertujuan untuk memastikan bahwa aplikasi saat ini digunakan dengan cara yang paling efektif untuk mendukung proses bisnis, menggunakan minimal sumber daya dan mengarah ke minimal gangguan operasional. 

Proses manajemen memastikan bahwa cluster operasional dikelola secara terpadu. Pemeliharaan aplikasi dan pembaharuan klaster memastikan bahwa aplikasi yang dimodifikasi sesuai dengan perubahan kebutuhan, biasanya sebagai akibat dari perubahan dalam proses bisnis, menjaga aplikasi up-to-date. Proses menghubungkan membentuk jembatan antara organisasi layanan cluster dan pengembangan dan pemeliharaan cluster. 

Ada dua kelompok pada tingkat strategis. Tujuan dari cluster strategi aplikasi adalah untuk mengatasi strategi jangka panjang untuk aplikasi. Proses yang diperlukan untuk strategi jangkapanjang untuk organisasi manajemen aplikasi dijelaskan dalam strategi organisasi manajemen aplikasi kerangka cluster.

KESIMPULAN

Technology Infrastructure Library (ITIL) merupakan merupakan sebuah kerangka kerja atau konsep yang menggambarkan praktek terbaik dalam manajemen layanan teknologi informasi (TI) dan berfokus pada pengembangan dan pengukuran yang terus menerus terhadap kualitas dari layanan IT yang diberikan baik terhadap bisnis atau pelanggan. ITIL memiliki beberapa proses seperti The Business Perspective, ICT Infrastructure Management, Planning to Implement Service Management, Application Management, Security Management, dan IT Service Management.

MOF merupakan sekumpulan prinsip, teknik, dan juga model yang teruji di lapangan (best practices) untuk mengelola layanan TI, yang bertujuan untuk Mencapai target service level: availability, reliability, supportability, managability, dan juga menciptakan infrastruktur TI yang adaptif.

ASL merupakan sebuah framework untuk proses manajemen aplikasi. ASL adalah domain publik standar untuk manajemen aplikasi. ASL adalah standar yang independen, terpisah dari IT Infrastructure Library (ITIL), tetapi terkait dengannya dalam pengertian kepatuhan terhadap standar-standar untuk mengelola proses dan memberikan keterkaitan yang erat, kepatuahan dari kumpulan publik domain dari suatu pedoman.
Ada 4 proses dalam cluster Dukungan Aplikasi pada ASL:
1. Use Support
2. Configuration Management
3. IT Operation Management
4. Continuity Management

DAFTAR PUSTAKA

http://satryaadipratama.blogspot.co.id/2010/08/technology-infrastructure-library-itil.html
http://bagusprstw.blogspot.co.id/2017/03/microsoft-operations-framework.html
http://agristilim.blogspot.co.id/2016/05/application-service-library-asl.html


Read more...

Review Jurnal Analisa dan Perancangan Penjualan Berbasis WEB










PENDAHULUAN

Pada zaman modern kali ini perkembangan teknologi sangat cepat sehingga kebutuhan akan berbagai informasi semakin meningkat. Informasi yang disampaikan melalui suatu website kepada perusahaan maupun pelanggan lebih efektif dan juga efisien, apalagi dengan didukung menggunakan multimedia seperti suara, video, dan lain-lain yang membuat suatu website lebih menarik. Selain itu website dapat di-update terus menerus sehingga lebih fleksibel. Dengan adanya suatu website, para pengusaha saat ini memanfaatkan sarana fasilitas tersebut dengan melakukan penjualan berbasis web.
  1. A.     Sistem Informasi Penjualan
Sistem adalah sekelompok unsur yang saling berhubungan satu dengan lainnya, yang memiliki tujuan bersama – sama untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan penjualan adalah suatu aktivitas untuk memperoleh keuntungan atau pendapatan baik pada perusahaan besar maupun pada perusahaan kecil. Jadi Sistem informasi penjualan dapat diartikan sebagai satu pembuatan pernyataan penjualan, sedangkan kegiatannya akan dijelaskan melalui prosedur – prosedur yang meliputi urutan dari suatu kegiatan dimulai dari promosi produk, kemudian dilakukannya transaksi penjualan seperti diterimanya pesanan dari pembeli, pengecekan barang ada atau tidak diteruskan dengan dikirimnya barang tersebut yang disertai dengan pembuatan faktur dan pencatatan atas penjualan tersebut.
  1. B.      Internet
Internet adalah suatu jaringan yang menghubungkan suatu perangkat computer dengan perangkat computer lainnya. WWW adalah sistem server yang dirancang untuk menggunakan dokumen hypertext dan hypermedia via Internet. WWW menggunakan fasilitas HTTP(Hypertext Transfer Protocol) untuk bertukar informasi, image, dan data lain. URL (Uniform Resources Locator ) digunakan untuk menentukan suatu situs pada internet dengan menampilkan suatu informasi tentang jenis da nisi lokasi computer dan protikol protokol internet yang digunakan untuk mengakses file tersebut.
  1. C.     E-Commerce
E-Commerce adalah konsep baru yang menggambarkan proses pembelian dan penjualan atau pertukaran produk, jasa, dan informasi melalui jaringan komputer termasuk internet. E-Commerce mencangkup transaksi bisnis antara customer dengan pemasok atau penjual dengan proses-proses pasar terbuka yaitu informasi elektronik, hubungan elektronik, dan transaksi elektronik.
  1. D.     Analisa SWOT
SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan, terdiri dari strength, weakness, opportunity dan threats. Yang kemudian dianalisa oleh perusahaan tersebut untuk menentukan langkah-langkah strategis untuk perusahaan tersebut.
Penjelasan Analisis SWOT :
-Strength adalah Kekuatan yang dimiliki oleh suatu perusahaan dibandingkan dengan para pesaing.
-Weakness adalah Kelemahan yang biasanya berbentuk masalah-masalah yang dihadapi oleh suatu perusahaan dibandingkan dengan para pesaingnya.
-Opportunity adalah suatu bidang kebutuhan pembeli di mana perusahaan dapat beroperasi secara menguntungkan. 
-Threats adalah tantangan akibat kecenderungan atau perkembangan yang kurang menguntungkan yang akan mengurangi penjualan dan laba jika tidak dilakukan tindakan defensive (pertahanan).
  1. E.      Pembuatan Layout
Proses yang secara umum banyak dilakukan dalam pembuatan suatu layout :
a)       Membuat sketsa desain
b)      Membuat layout desain
c)       Membagi gambar menjadi potongan-potongan kecil
d)      Membuat animasi
e)       Membuat HTML

PEMBAHASAN
  1. A. Analisa Permasalahan
Untuk mengetahui permasalahan yang ada pada sistem yang sedang berjalan, dilakukan wawancara terhadap pihak Mal Puri Indah serta penyusunan pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk kuesioner. Adapun jumlah kuesioner yang dibagikan adalah sebanyak 100 lembar kuesioner yang masing-masing kuesionernya terdiri dari 10 pertanyaan. Pembagian kuesioner ini dilakukan pada tanggal 2 Oktober 2005 di Mal Puri Indah kepada para pengunjung Mal Puri Indah. Dari 100 kuesioner yang dibagikan, ada 12 kuesioner yang tidak diisi secara lengkap (tidak valid), jadi kuesioner yang valid sebanyak 88 kuesioner. Pengunjung yang mengisi kuesioner terdiri dari pria dan wanita dari remaja sampai yang tua. 

     Berdasarkan hasil analisa kuesioner, dapat kita simpulkan bahwa informasi yang disajikan oleh Mal Puri Indah dapat diakses dengan mudah oleh para pengunjung Mal Puri Indah, tetapi banyak pengunjung masih merasakan informasi yang disajikan kurang lengkap karena tidak dijelaskan secara terperinci. Dari kuesioner nomor 7 kita dapat lihat bahwa hampir semua responden (95%) mengharapkan adanya Website Mal Puri Indah yang dapat memberikan mereka informasi tentang mal tersebut. Menurut hasil analisa kuesioner nomor 8 dan 9, website yang menarik adalah yang didukung dengan unsur multimedia (teks, gambar, suara, animasi, dan video). Berdasarkan hasil kuesioner nomor 10, pengunjung menginginkan website yang dirancang untuk Mal Puri Indah disertai dengan peta lokasi yang bisa memberi petunjuk mengenai lokasi Mal Puri Indah. 

Dari hasil wawancara dengan pihak Mal Puri Indah tentang sistem promosi yang sedang berjalan saat ini, terdapat beberapa kelemahan sistem tersebut yang menjadi kendala bagi pihak Mal Puri Indah dalam mengoptimalkan promosi mal tersebut. Kendala-kendala tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
  1. a. Masalah biaya yang harus dikeluarkan untuk mencetak brosur-brosur, dan biaya iklan-iklan di radio, koran, serta majalah. Selain itu diperlukan biaya bagi personil-personil yang bertugas menempelkan poster dan mendistribusikan majalah tersebut. 
  2. b. Brosur-brosur yang diletakkan di tempat-tempat tertentu di Mal Puri Indah akan terbuang sia-sia jika pengunjung tidak tertarik untuk mengambilnya. 
  3. c. Setiap kali ada perubahan tanggal pelaksanaan program-program yang akan diselenggarakan di Mal Puri Indah, mereka harus mencetak ulang brosur-brosur tentang acara tersebut. Hal ini sangat tidak efisien, karena perlu waktu dan biaya tambahan untuk mengupdate dan mencetak ulang brosur tersebut.

  1. B.     Perancangan Sistem
Berikut ini beberapa contoh rancangan layar pada Website Mal Puri Indah, yaitu :
Gambar 1. Rancangan Halaman Acara
Gambar 2. Rancangan Halaman Toko
Gambar 3. Rancangan Halaman Utama
  1. C.      Implementasi Sistem
     Website Mal Puri Indah rencananya akan diimplementasikan dengan launching ke internet dan di sebarkan luaskan melalui unit computer yang di tempatkan di beberapa lokasi strategis di Mal Puri Indah di mana semua komputer ini terkoneksi ke internet sehingga pengunjung dapat mengakses website Mal Puri Indah jika mereka memerlukan informasi-informasi tentang Mal Puri Indah.
  1. D. Cara Pengoperasian Aplikasi
Setelah URL ditemukan, maka akan tampil layar halaman Intro di mana terdapat animasi-animasi flash yang menampilkan sekilas tentang bangunan Mal Puri Indah dan beberapa gambar toko yang disertai dengan efek suara. Terdapat tombol “Skip Intro” yang jika dipilih, maka akan langsung masuk ke Halaman Utama Website Mal Puri Indah. Di bagian atas tombol “Skip Intro” terdapat tombol “On” dan “Off” untuk menghidupkan atau mematikan suara. Setelah masuk ke Halaman Utama, user dapat mengakses informasi mengenai promosi sekilas tentang Mal Puri Indah, di mana user dapat melihat keterangan lengkap (detil) dari masing-masing informasi tersebut dengan klik image, judul, atau detil pada informasi tersebut. Pada sisi kanan bawah terdapat enam tombol menu utama, antara lain: tombol Halaman Utama, Profil, Fasilitas, Toko, Acara, dan Hubungi Kami. Masing-masing jika diklik akan dihubungkan ke halaman yang sesuai dengan tombol yang diklik tersebut.. Pada sisi kiri atas Halaman Utama terdapat animasi flash logo Mal Puri Indah, sedangkan pada sisi kanan atas terdapat animasi flash lainnya yang kurang lebih menggambarkan halaman tersebut, dimana terdapat tombol “On” dan “Off” yang berada di sisi bawah animasi. Tombol ini berguna untuk menghidupkan atau mematikan suara yang ada. Tampilan layar Halaman Utama dapat dilihat pada gambar berikut.

Jika tombol “Toko” diklik, maka akan ditampilkan halaman ini (lihat gambar 4.9). Tampilan halaman Toko mirip dengan Halaman Utama. Pada sisi kiri bawah terdapat sepuluh kategori toko yang ada pada Mal Puri Indah. Jumlah kategori toko yang ditampilkan bisa berubah tergantung keperluan. Jika image atau judul pada kategori toko tersebut diklik maka akan tampil halaman Daftar Toko. Jika tombol “Acara” diklik, maka akan ditampilkan halaman ini (lihat gambar acara). Tampilan halaman Acara mirip dengan Halaman Utama. Total jumlah acara terbaru yang diselenggarakan di Mal Puri Indah yang ditampilkan pada halaman ini adalah 12 acara. Ke-12 acara ini ditampilkan dalam 3 (tiga) halaman di mana masing-masing halaman memilki link kehalaman lainnya yang dapat dilakukan dengan meng-klik angka „1‟, „2‟, dan „3‟ yang terdapat pada bagian bawah masing-masing halaman acara tersebut. Jika anga „1‟ diklik, maka akan masuk ke halaman acara yang pertama yang berisi 4 acara terbaru, begitu pula bila angka „2‟ atau „3‟ dilklik, maka akan masuk ke halaman kedua dan ketiga. Pada sisi kiri bawah terdapat empat acara terbaru yang diadakan Mal Puri Indah. Jika user klik judul, image, atau detil salah acara, maka akan ditampilkan Halaman Detil Acara yang berisi keterangan lengkap acara yang diklik tersebut. Halaman Detil Acara hampir sama dengan Halaman Detil Informasi. Tetapi yang berbeda hanya judul acara yang terdapat di atas image.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisa yang telah di lakukan terhadap Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2010  pihak Mal Puri Indah, Website Mal Puri Indah yang dibuat sangat membantu baik untuk pihak Mal Puri Indah maupun para pengunjung Mal Puri Indah sendiri. Maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut :
  1. 1. Dapat mempermudah dalam mengupdate atau memperbaharui informasi yang akan akan disampaikan dengan adanya Website Mal Puri Indah Mall.
  2. 2.  Website Mal Puri Indah sebagai sarana untuk mempromosikan Mal Puri Indah memberikan daya tarik tersendiri karena didukung oleh unsur-unsur multimedia seperti animasi, suara, teks, gambar, dan lain-lain. Sehingga dapat menarik lebih banyak pengunjung.
  3. 3.   Informasi yang ditampilkan dalam Website Mal Puri Indah sudah lengkap dan lebih informatif. 
DAFTARPUSTAKA
Read more...